ANAK
SHALEH, JALAN SURGA ORANGTUA
الله
أكبر 9
اللهُ
أَكْبَرْ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً
وَأَصِيْلاً. لآإِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ، وَصَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ
عَبْدَهُ وَأَعَزَّجُنْدَهُ وَهَزَمَ الأَحْزَابَ وَحْدَهُ لآإِلَهَ إِلاَّ اللهُ
وَلاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إِيَّاهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنُ وَلَوْ كَرِهَ
الْكَافِرُوْنَ وَلَوْكَرِهَ الْمُشْرِكُوْنَ وَلَوْ كَرِهَ الْمُنَافِقُوْنَ
إِنَّ
الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ
ِباللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ
فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ
إِلاَّ الله وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
يَا
أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ
إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ.
يَا
أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ
وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا
وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ
اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا.
يَا
أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا.
يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ
اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا. أَمَّابَعْدُ؛
فَإِنَّ
خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ
وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ
Allahu
Akbar 3x Wallilahilhamd
Jama'ah
Shalat Idul Adha Rahimakumullah
Injing
meniko, kita dados saksi betapa luasnya kasih-sayang Allah swt kepada kita . Injing
meniko , kita kembali merasakan betapa besarnya rahmat dan ampunan Allah kepada
kita
Dosa
demi dosa kita kerjakan nyaris sepanjang hari. Perintah demi perintahNya hampir
kita abaikan setiap saat. Tapi lihatlah, Allah swt itu tidak pernah bosan memberikan kesempatan
demi kesempatan kepada kita untuk bertaubat dan kembali padaNya. Allah yang Maha Penyayang itu tidak pernah menutup
pintu ampunanNya yang luas.
Allahu
Akbar 3x Wallilahilhamd
Jama'ah
Shalat Idul Adha Rahimakumullah
Hari
Raya Idul Adha adalah kisah tentang sebuah keluarga mulia yang diabadikan oleh
Allah swt untuk peradaban manusia. Itulah kisah keluarga Ibrahim ‘alaihissalam.
Melalui kisah keluarga Ibrahim ‘alaihissalam itu, Allah Ta’ala ingin
menunjukkan kepada kita betapa pentingnya posisi keluarga dalam membangun
sebuah peradaban yang besar. Sebuah masyarakat yang bahagia sejahtera, di dunia, dan akhirat.
Sebuah
masyarakat tidak akan bisa menjadi bahagia dan sejahtera jika masyarakat itu
gagal dalam membangun keluarga-keluarga kecil yang ada di dalamnya.
Dan
jika kita berbicara tentang keluarga, maka itu artinya kita juga akan berbicara
tentang salah satu unsur terpenting keluarga yang bernama: Anak. Dalam kisah
keluarga Ibrahim ‘alaihissalam, sang anak itu “diperankan” oleh sosok Isma’il
‘alaihissalam.
Inilah
sosok anak teladan sepanjang zaman yang kemudian diangkat menjadi seorang nabi
oleh Allah swt. Bahkan yang luar biasanya adalah melalui keturunan Isma’il
‘alaihissalam inilah kemudian lahir sosok nabi dan rasul paling mulia sepanjang
sejarah manusia bahkan alam semesta, yaitu: Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi
wa sallam!
Allahu
Akbar 3x Wallilahilhamd
Kita
semua nyaris menyaksikan setiap hari di sudut-sudut jalan raya,khususnya di
kota-kota besar bagaimana anak-anak kita dieksploitasi dan diperalat menjadi
anak jalanan, mengemis dan meminta-minta sambil mengisap lem dari balik bajunya
yang lusuh dan kotor.
Saya
kira kita juga tahu hasil-hasil survey mutakhir yang menunjukkan bagaimana
jumlah ABG yang hamil di luar nikah terus meningkat dalam jumlah yang sangat
memprihatinkan. Dan itu semua barulah segelintir masalah dan problem anak-anak
kita di masa kini
Harus
kita akui dengan jujur bahwa salah satu penyebab utama terjadinya ini semua
adalah orangtua itu sendiri. Tidak sedikit Orangtua yang terjebak
dalam dua sikap ekstrem yang saling bertolak belakang : sikap memanjakan yang terlalu berlebihan dan sikap
pengabaian dan menelantarkan anak-anak.
Ada
orangtua yang menganggap bahwa kasih sayang kepada anak harus ditunjukkan
dengan pemberian dan pemenuhan segala keinginannya. Bahkan ada juga orangtua
yang memanjakan anak dengan segala fasilitas untuk mengangkat gengsinya sendiri
sebagai orangtua!
Pada
sisi yang lain, tidak sedikit orangtua yang tidak peduli dengan anak-anaknya.
Atau menunjukkan kepedulian dengan melakukan kekerasan demi kekerasan kepada
anak.
Karena
itu, di hari yang penuh berkah ini, marilah kita berhenti sejenak, membuka hati
untuk sejenak belajar dari ayahanda para nabi dan rasul, Nabiyullah Ibrahim
‘alaihissalam. Belajar tentang betapa pentingnya nilai keluarga kita, tentang
betapa pentingnya nilai seorang anak bagi orangtuanya di dunia dan akhirat.
Allahu
Akbar 3x Wallilahilhamd
Pelajaran
pertama dari kisah Ibrahim ‘alaihissalam adalah bahwa untuk mendapatkan anak
yang shaleh, maka orangtua terlebih dahulu harus berusaha menjadi orang yang
shaleh. Karena siap menjadi orangtua artinya siap menjadi teladan untuk
keluarga, bukan sekedar memberi makan dan mencukupi kebutuhan anak.
Keberhasilan
Nabi Ibrahim ‘alaihissalam mendapatkan karunia anak shaleh seperti Isma’il
‘alaihissalam adalah karena beliau sendiri berhasil mendidik dan membentuk
dirinya menjadi seorang hamba yang shaleh. Allah swt. menegaskan:
قَدْ
كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ
“Sungguh telah ada untuk kalian teladan yang baik dalam diri Ibrahim dan
orang-orang yang bersamanya.” (al-Mumtahanah: 4)
Pujian
Allah swt untuk Ibrahim ‘alaihissalam ini tentu saja didapatkannya setelah ia
berusaha dan berusaha menjadi sosok pribadi yang dicintai oleh Allah swt.
Pelajaran
kedua dari Nabi Ibrahim ‘alaihissalam adalah jika ingin memiliki anak yang
shaleh, maka bersungguh-sungguhlah meminta dan mencita-citakannya dari Allah
swt. Allah Ta’ala mengabadikan doa-doa Nabi Ibrahim ‘alaihissalam tentang
itu di dalam al-Qur’an:
رَبِّ
هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ
“Tuhanku, karuniakanlah untukku (seorang anak) yang termasuk orang-orang
shaleh.” (al-Shaffat: 100)
رَبِّ
اجْعَلْنِى مُقِيمَ الصَّلَوٰةِ وَمِن ذُرِّيَّتِى رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَآءِ
“Ya Tuhanku, jadikanlah aku orang yang menegakkan shalat, juga dari
keturunanku. Ya Tuhan kami, kabulkanlah doaku.” (Ibrahim: 40)
Mungkin
banyak di antara kita yang ingin memiliki anak yang shaleh. Tapi siapa di
antara kita yang sungguh-sungguh berdoa memintanya kepada Allah dengan kelopak
mata yang berderai air mata? Siapa di antara kita yang secara konsisten
menyelipkan doa-doa terbaiknya untuk keluarga dan anak-anaknya?
Jika
kita memang sungguh-sungguh bercita-cita mendapatkan anak shaleh, maka kita
harus berpikir dan berusaha sungguh-sungguh pula mencari jalannya, sama bahkan
lebih dari saat kita bercita-cita ingin mempunyai penghasilan yang besar, rumah
tinggal impian dan kendaraan idaman kita. Berikut ini beberapa hal yang
sungguh-sungguh harus kita jalankan untuk mewujudkan impian “anak shaleh”
tersebut:
Pertama,
konsisten mencari rezki yang halal untuk keluarga
Dalam
pandangan Islam, apa yang dikonsumsi oleh tubuh manusia akan berpengaruh
terhadap perilakunya. Karena itu, Islam mewajibkan kepada setiap orangtua untuk
memberikan hanya makanan halal yang diperoleh melalui harta yang halal kepada
anak-anak mereka. Bahkan nafkah yang halal untuk keluarga akan dinilai sebagai
sedekah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ
الْمُسْلِمَ إِذَا أَنْفَقَ عَلَى أَهْلِهِ كَانَتْ لَهُ صَدَقَةً
“Sesungguhnya seorang muslim itu jika ia memberi nafkah kepada
keluarganya, maka itu akan menjadi sedekah untuknya.” (HR. Ibnu Hibban dan
dishahihkan oleh al-Albani)
Usaha
memberikan nafkah yang halal tentu saja menjadi tantangan tersendiri bagi
orangtua. Dan untuk itu, kita harus selalu mengingat peringatan Rasulullah saw
tentang tantangan tersebut. Beliau bersabda:
يَأْتِي
عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ لاَ يُبَالِي الْمَرْءُ مَا أَخَذَ مِنْهُ أَمِنَ
الْحَلاَلِ أَمْ مِنْ الْحَرَامِ
“Akan datang kepada manusia suatu zaman di mana seseorang tidak lagi
peduli apa yang ia kumpulkan; apakah dari yang halal atau dari yang haram?”
(HR. al-Bukhari)
Apakah
kita termasuk yang disebutkan Rasulullahsaw dalam hadits ini? Orang yang tidak
peduli dari mana mengais dan membawa pulang nafkah untuk keluarga; apakah itu
dari hasil suap, korupsi dan manipulasi seperti yang sekarang ini sedang
menjadi trend sebagian pejabat di negeri ini?! Semoga saja tidak, karena nafkah
yang tidak halal yang tumbuh menjadi daging dalam tubuh. Dan Rasulullah telah
berpesan:
لَا
يَدْخُلُ الْجَنَّةَ لَحْمٌ نَبَتَ مِنَ السُّحْتِ، النَّارُ أَوْلَى بِهِ
“Tidak akan masuk surga daging tumbuh dari harta haram, karena neraka
lebih pantas untuknya.”(HR. al-Tirmidzi dengan sanad yang shahih)
Allahu
akbar, Allahu akbar, la ilaha illaLlahu Allahu akbar walillahilhamd…
Yang
kedua, memberikan kasih sayang kepada anak tapi tidak memanjakannya
Pada
hari ini, seiring dengan perkembangan teknologi yang nyaris tak terbendung,
kita sudah tidak aneh lagi melihat anak-anak yang dibekali oleh para orangtua
dengan peralatan-peralatan komunikasi yang bisa apa saja, termasuk mengakses
tayangan-tayangan pornografi.
Di
samping dampak lain seperti kecanduan game dan semacamnya yang semakin
merenggangkan hubungan komunikasi antara anak dan orangtua. Ini adalah satu
contoh kasus di mana mungkin saja kita menganggap itu sebagai bukti kasih
sayang kita kepada mereka.
Namun
marilah memikirkan dengan jernih bahwa bukti cinta dan sayang kita yang
sesungguhnya kepada mereka adalah dengan berusaha menyelamatkan mereka dari api
neraka. Allah Ta’alaberfirman:
يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا
النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ
“Wahai orang-orang yang beriman! Jagalah diri dan keluarga kalian dari
api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu” (al-Tahrim: 6)
Allahu
Akbar 3x Wallilahilhamd
Selanjutnya
yang ketiga adalah terus belajar dan belajar menjadi orangtua yang shaleh dan
cakap
Apakah
kita sudah mengetahui semua panduan dan petunjuk Rasulullah saw dalam mendidik
anak?
Apakah
kita sudah memahami bagaimana menghadapi karakter anak kita yang berbeda-beda
itu?
Kita
tidak dilarang mempelajari konsep pendidikan anak dari siapa saja, tapi selalu
ingat bahwa konsep pendidikan dan pembinaan Rasulullah saw adalah yang terbaik
dan yang wajib untuk kita jalankan. Tentu saja kita tidak lupa untuk meneladani
jejak para sahabat Nabi dan Ahlul bait beliau secara benar, dan tidak
berlebih-lebihan.
Cobalah
kita renungkan betapa banyaknya hal yang harus kita pelajari sebagai orangtua.
Karenanya sesibuk apapun urusan dunia kita, kita harus menyediakan waktu untuk
belajar menjadi orangtua yang shaleh dan cakap. Itulah harga yang harus kita
bayar untuk menyelamatkan keluarga kita dari kobaran api neraka yang membara.
Rasulullah
bersabda:
إِذَا
مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةِ أَشْيَاءَ:
مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ
يَدْعُو لَهُ
“Apabila seorang insan meninggal dunia, akan terputuslah seluruh amalnya
kecuali dari 3 hal: dari sedekah jariyah, atau dari ilmu yang bermanfaat, atau
anak shaleh yang berdoa untuknya.”(HR. Abu Dawud dan dishahihkan oleh
al-Albani)
Melalui
hadits ini, Rasulullah saw mengisyaratkan bahwa anak yang shaleh adalah
investasi yang tak ternilai harganya. Anak yang shaleh adalah pelita yang tak
padam meski kita telah terkubur dalam liang lahat. Anak yang shaleh adalah
sumber pahala yang tak putus meski tubuh kita telah hancur berkalang tanah.
Sebaliknya,
anak-anak yang tidak shaleh kelak akan menjadi sumber bencana bagi kehidupan
kita para orangtua di akhirat.
Allahu
Akbar 3x Wallilahilhamd
Di
penghujung khutbah ini, marilah sejenak kita menundukkan jiwa dan hati untuk
menyampaikan doa-doa kita kepada Sang Maha mendengar, Allah Azza wa Jalla.
Semoga doa-doa itu terhantarkan ke sisi Allah Ta’ala bersama dengan ibadah
kurban yang kita tunaikan hari ini.
بَارَكَ
الله ُلِيْ وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ
بِاْلآيَاتِ وَالذِّكْرِالْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَه
إِنَّه هُوَالسَّمِيْعُ اْلعَلِيْمُ. وَقُلْ رَّبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَاَنْتَ
أَرْحَمُ الرَّاحِمِيْنَ
KHUTBAH
II
الله
أكبر 7
اَلْحَمْدُ
للهِ الَّذِي هَدانَا لِدِيْنِ الإِسْلاَمِ, وَاَرْسَلَ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِسَائِرِ الْخَلْقِ وَالأُمَمِ, وَهُوَ سَيِّدُ
اْلأنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ وَخَيْرُ اْلَبشَرِ وَاْلأناَمِ. اَشْهَدُ اَنْ
لا اِلهَ اِلاَّ اللهُ اْلمَلِكُ الْحَقُّ الْمُبِيْنُ وَاَشْهَدُ اَنَّ
سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَادِقُ الْوَعْدِ اْلأَمِيْنِ.
اَمَّا بَعْدُ.
فَيَا
عِبَادَ اللهِ, اُوْصِيْكُمْ وَاِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنََ,
وَاتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ
مُسْلِمُونَ. فَقَدْ قَالَ تَعَالى فِى كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: اِنَّ اللهَ
وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيّ يَآ أيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا
صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلى سَيِّدِنَا
اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى اَلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا
اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى اَلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فِى الْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ
حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ, وَارْحَمْنَا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَااَرْحَمَ
الرَّاحِمِيْنَ
Ya Allah, ya Tuhan kami, pada hari ini kami
berkumpul merayakan hari yang Engkau agungkan, hari yang sangat bersejarah
dalam kehidupan umat manusia, khususnya manusia yang mengakui keberadaan dan
kemahabesaran-Mu. Oleh karena itu ya Allah, kami bermohon kepadamu, kiranya
senantiasa berkenan melimpahkan rahmat dan kasih sayang kepada kami sehingga
kami mampu menjalankan semua yang engkau perintahkan dan meninggalkan semua
larangan-Mu.
Ya Allah, ya Tuhan kami, Tuhan yang senantiasa
mendengarkan semua pengaduan hambanya, anugrahilah kami rezeki yang mulia serta
hati yang ikhlas untuk senantiasa rela berkorban demi memenuhi panggilan-Mu. Ya
Allah, anugrahkan pula kepada kami hati yang pandai bersyukur, sehingga kami
dapat mensyukuri segala nikmat yang telah Engkau berikan kepada kami. Kami
bermohon pula, kiranya Engkau memberikan kesabaran dan ketabahan dalam
menghadapi cobaan-cobaan dunia seperti berbagai krisis yang sedang dihadapi
oleh bangsa Indonesia sekarang ini, dan hanya bantuan-Mulah yang senantiasa
kami harapkan untuk mengatasinya.
Ya Allah ya Tuhan kami, limpahkanlah rezeki
yang Engkau berkati dan jadikanlah rezeki itu sebagai alat untuk memperkokoh
silaturahmi di antara kami, dan bukan menjadi bala’ atau ssumber bencana atas
kami.
Ya Allah, ya gaffâr ya Rahman, ya Rahim,
ampunilah dosa dan kesalahan kami, ampunilah segala dosa dan kesalahan ayah dan
ibu kami, sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangai dan mendidik kami
sewaktu kecil.
Ya Allah,
ya Mujibassailin, perkenankanlah semua do’a kami.
رَبَّنَا
اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالْإِيْمَانِ، وَلَا
تَجْعَلْ فِي قُلُوْبِنَا غِلاًّ لِلَّذِيْنَ آمَنُوْا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوْفٌ
رَحِيْمٌ
رَبَّنَا
آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ
النَّارِ وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ
(عِبَادَاللهِ)
اِنَّ اللهَ يَأمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلاِحْسَانِ وَاِيْتآءِ ذِاْلقُرْبَى
وَيَنْهَى عَنِ اْلفَخْشَآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ
تَذَكَّرُوْنَ (وَلَذِكـــْـرُ اللهِ اَكـــْبَرُ)


















